teruntuk kamu..


Teruntuk kamu, yang bertahan di sampingku...

Tentu, masih lekat di dalam kepalaku bagaimana kita berbagi hujan di sore itu. Ketika rintik air langit berjatuhan membentuk genangan air kecokelatan di sisi jalan beraspal. Aroma basah tanah menyeruak masuk memenuhi paru-paru. Kita menghirup udara dalam-dalam, membiarkan rasa sejuk itu merambat melalui kerongkongan dan mengisi rongga-rongga dalam dada.

Entah bagaimana, semua terjadi begitu adanya. Kita duduk bersisian, memandang lurus pada bulir-bulir hujan yang jatuh perlahan.  Kita berbincang. Bertukar cerita hingga tawa itu menggema mengalahkan riuhnya hujan yang menari-nari diiringi guntur yang menggelegar. Ada hangat yang meresap melalui pori-pori hingga aku tak lagi peduli kapan hujan akan berhenti.


Kamu memang hanya kamu...

Kamu bukan orang yang memiliki segalanya. Kamu hanya orang yang dipilih hatiku untuk menjadi penghuninya. Apapun yang kamu lakukan, kapanpun, dimanapun, entah bagaimana, itu selalu bisa membuatku tersenyum dan meninggalkan rasa kecewa.

Kamu membuatku merasakan indahnya memiliki dan dimiliki. Tak perlu kata-kata. Karena aku tahu, dengan sikapmu dan sorot matamu saja, aku sudah ada dalam lingkaran kasihmu. Meski tak banyak, tak apa. Aku merasa cukup atas apa yang kamu berikan padaku seiring berjalannya waktu. Kita hanya perlu menunggu. Membiarkan tabir-tabir rindu menemukan jalannya untuk mulai mengungkapkan sesuatu.

Kita tahu, ada rasa yang mengalir diam-diam dalam bilik-bilik hati hingga sehari tak menemukanmu mampu menyulut kegelisahanku. Hatiku akan menuntut. Menuntut tubuhku untuk bergerak cepat mengirim pesan singkat untuk sekedar menanyakan kabar. Itukah sebuah kepedulian yang menunjukan sesuatu yang belum pernah kita rencanakan?

Setiap kali kebersamaan kita terangkum dalam pekatan jingga di angkasa, kita akan berlomba menghitung semburat-semburat  merah yang menggantung memenuhi cakrawala senja. Ada kamu, aku ada. Seperti hujan yang tak pernah kehilangan gumpalan awannya. Jika aku tak bersamamu, aku seperti terik yang tak menemui teduh.


“Tenang aja, kan ada aku di samping kamu.  I will always stay with you.” Katamu sore itu.

Aku diam. Tak menyahut. Hanya tersenyum menyadari nyatanya dirimu.
Terimakasih karena kamu membuatku semakin yakin bahwa ada sedikit tempat di hatimu untukku. Aku tak lagi membutuhkan kata, aku hanya membutuhkan kamu yang bisa membuatku tersenyum dengan segala yang ada di dirimu. Tak peduli seperti apa kamu dimata orang-orang itu. Tak peduli seburuk apa kamu. Jika hatiku memilihmu, aku tak perlu alasan lagi untuk tetap berada di sampingmu.

Jangan pernah bertanya mengapa aku tak pernah ingin melepasmu. Karena aku tak akan pernah bisa menjawabnya dengan kejujuranku. Aku tahu, kamu paham seperti apa sakitnya kehilangan. Jangan lakukan itu padaku karena aku akan sangat membutuhkanmu untuk membantuku bangkit dari keterpurukan setelah jatuh karena kamu meninggalkanku. Bertahanlah disini, pinjamkan bahumu, dan biarkan aku rebah di dalam dekapanmu seperti malam itu.


Seperti kunang-kunang, kamu hadir dengan sinar yang membuat hariku semakin terang. Bagaimana bisa aku merasa nyaman dengan kamu yang diam-diam berdiri diambang pintu dan tersenyum padaku hari itu? Entahlah, sejak kali pertama mata kita beradu, aku yakin akan sesuatu. Kamulah orang yang dikirimkan Tuhan untuk membuatku merasa tenang.

Tak perlu banyak bicara untuk membuktikan rasa yang menyatukan kita dalam cerita yang sama. Alam telah melakukannya. Hujan telah meluruhkan keangkuhan dalam diri kita melalui rintiknya yang jatuh perlahan. Senja telah melukiskan keindahannya pada kanvas jiwa berasama semburat-semburat merah yang selalu kita hitung setiap kali kita berada diantaranya. Aku yakin, ada aku di hatimu meski aku tak tahu sebesar apa tempatku disitu.  Aku tak ingin menebak-nebak. Biar saja waktu mencari jalan untuk menemukan keberanian itu. Biarkan saja ia mengalir memenuhi rongga hatimu. Selama kamu disampingku, aku tak perlu mengkhawatirkan sesuatu


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar